"TUHAN, KEPADA SIAPAKAH KAMI AKAN PERGI? PERKATAANMU ADALAH PERKATAAN HIDUP YANG KEKAL." [ Yoh 6:68 ]

Sabtu, 19 Mei 2012

The Power of G-Spot

Seminar Exclusive 18+

The Power of G-Spot

Pembicara : Lusius Sinurat, S.S., M.Hum.

Moderator : A. Yuria Ekalitani, S.Psi., C.Ht., M-OEI.


Abstrak
Melalui penelusuran “the power of G-Spot” kita digiiring pada kesadaran akan dimensi holistik dari tubuh manusia, yang serentak tampil megah sebagai realitas otonom dan keberadaaannya selalu terkati erat dengan pikiran, subyek, dan dunia. Dengan kesadaran ini kita dimampukan untuk memperlakukan tubuh kita secara kreatif dan artistik.

ppp



Intermesso

Pada saat seminar “the Power of G-Spot” ini pertama kali di-sounding, para sahabat, teman, dan rekan kerja tertawa dan sedikit mesum. Mereka rada terangsang dengan tema ini. Tentu saja karena mereka sudah berusia di atas 18 tahun loh hehehe. Enggak mengherankan juga sih, soalnya terlalu lama kita mereduksi terminologi “G-Spot”melulu sebagai titik rangsang yang ujung-unjungnya akan menggiring seseorang pada kepuasan seksual. Menakjubkan juga reaksi teman-teman di FB yang jauh lebih tertarik dengan desain “erotis” di brosur seminar ini yang dipajang mulai di Fesbuk CFDC Misericordia, FB personal dari semua panitia, atau poster yang ditempel di papan pengumuman kampus, atau di tempat lain yang sempat disatroni panitia seminar ini kepada orang-orang yang lalulalang di seputar mal dan toko buku. Para calon peserta menantang pembicara agar seminar ini juga “bersedia” menampilkan “praktikum” sebagaimana biasanya tercatut dalam program-program “Sex education”. Menarik! Ya, sungguh menarik mengamati reaksi dari teman-teman tentang tema ini. Benar bahwa tema “the power of G-Spot memang menarik untuk dibicarakan dan didiskusikan. Tapi sori, Gan, selain karena saya bukan seksolog kondang sekaliber dr. Boyke atau dr. L. Naek Tobing, juga sejak awal saya telah jujur mengatakan bahwa yang kita lakukan dalam seminar ini bukan pelajaran seks, pun bukan tentang teknik bercinta teranyar a la Kamasutra yang mashyur itu. Yang akan saya tampilkan dalam seminar ini tak lain adalah refleksi atas nilai filosofis dari gerak-gerik dari tubuh manusia yang sejak awal diciptakan su-ci alias suka-(ber)cinta. Sok atuh, monggo diikuti dengan serius ya....hehehe...

qqq

1. G-SPOT SEBAGAI LINGKAR PROMOSI DIRI

G-Spot adalah titik sensitif di bagian organ intim. Kenikmatan puncak saat bercinta dapat dirasakan ketika Anda dan pasangan menemukan titik ini. Terminologi G-Spot sendiri dipopulerkan oleh dr Ernest Grafenberg pada tahun 1950. Tak heran bila istilah yang digunakan adalah G-Spot alias Titik Grafenberg. Menurut Grafenberg G-Spot adalah daerah berbentuk kacang di dinding vagina yang akan menjamin orgasme perempuan segera setelah dirangsang. Ukuran dan pengembangan dari spons uretra dapat bervariasi, maka tidak ada dua wanita akan menanggapi rangsangan G-Spot yang persis sama. G-Spot sekali dirangsang memberikan kenikmatan seorang wanita luar biasa dan merupakan titik pusat dari gairah seksual.

Minggu, 22 April 2012

Merancang Metode Belajar Efektif dan Asyik

Alasan Perlunya Metoda Baru

Para ahli pendidikan berpendapat bahwa manusia sekarang penuh dengan persoalan kompleksitas, begitu juga tantangan yang dihadapinya berkembang begitu cepat bagai kilat serta semakin rumit. Namun pada saat yang bersamaan kebutuhan akan  hidup bahagia makin sulit didapatkan, tak saja oleh kita orang dewasa, tetapi juga oleh oleh anak-anak. Untuk itu, jaman ini membutuhkan manusia yang sudah siap sedia menghadapi kompleksitas tantangan di atas, sebelum mereka terjebak oleh penderitaan jaman ini. Jaman ini memang jaman neuroscience (neurosains)di mana peta otak manusia bergerak secara lebih intensif di banding jaman sebelumnya. Menurut penelitian terkini otak manusia dalam dua dasawarsa terakhir ini telah menjungkir-balikkan berbagai teori tentang otak. Itulah yang dilakukan oleh Daniel Goleman (1996) yang membentangkan teori kecerdasan emosional: kesadaran orang semakin besar akan pentingnya mengasah emosi. Juga ide tentang kecerdasan spiritual oleh Danar Zohar dan Ian Marshal (2002) semakin menjadikan manusia modern merasa perlu untuk mengenali struktur biologis otaknya.

Perempuan itu Paradoks

Dia itu Memang Perempuan

Air mata perempuan itu tiba-tiba sembab, tapi serentak, dalam beberapa detak jantung saja dia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak karena lelucon yang kulontarkan. Lagi, ia lantas mengulum bibirnya pertanda sedang tersenyum saat pujian kulontarkan. Eh, tidak lama kemudian, ia malah tersipu-sipu saat jemarinya aku pegang dengan lembut. Aku bingung, dan tak tahu harus berbuat apa. Sepintas aku hanya berpikir, jangan-jangan perempuan adalah simbol kegilaan bagi kaum laki-laki. Benarkah ? Tentu saja tidak, karena di saat yang lain perempuan tadi akan tampil logis dan sistematis saat bertutur tentang pengetahuan tertentu yang ia kuasai.

Ya, itu dia perempuan. Ia adalah anomali yang merepresentasi paradoks kehidupan manusia. Ia ibarat “blender” yang meramu dan meremukkan hingga halus setiap jenis buah yang dimasukkan ke dalamnya hingga menjadi satu rasa. Perempuan pun sama. Perempuan adalah perpaduan berbagai rasa yang di-blender menjadi satu rasa yang terungkap secara aneh dan tak tertebak.

Selasa, 10 April 2012

Jatuh Tapi Tersenyum

Tak mudah untuk jatuh tapi tersenyum. Dalam sebuah pertandingan sepak bola hal ini tampak hitam putih. Bagi seorang striker seperti Francesco Totti jatuh di kotak pinalti adalah "senyum", dan jatuh di luar wilayah itu berarti amarah, kecuali kepadanya dihadiahkan free kick. Kita tidak membahas senyum dalam konteks "kemenangan" dan kemenangan. Tidak semua pemain olahraga terpopuler sejagat itu melakukan hal yang sama. Wajah dan ekspresi wajah Ronaldinho selalu tersenyum baik ketika jatuh di dalam atau di luar kotak pinalti. Pasti kebanyakan dari kita memilih senyum Ronaldinho disbanding senyum Totti. Tentang berbagai macam arti senyum dari seorang sang bintang masih bisa kitta deretkan. Kalau tadi kita baru melihat (tanpa tahu sebetulnya apa yang ada di hati maraca) dua orang terkenal, dan lagi dari dua kultur yang berbeda, Italia dan Brasil. Tentu, lain lagi dengan senyumnya orang Indonesia.

Berilah Aku Keberanian

"Berilah aku keberanian untuk
mempertaruhkan hudupku"

Aku tak tahu, Tuhan . . .
apa yang harus kuminta pada-mu
Aku punya demikian banyak permintaan.

Aku sungguh egois,
aku baru berpikir tentang orang lain
hanya bila aku punya kekhawatiran,
jangan-jangan kesusahaannya
juga akan menular padaku . . .

Tapi bila aku juga tidak berani
meminta apa-apa pada-Mu
toh aku ingin memberanikan diri
untuk minta satu hal ini saja.

Berilah aku keberanian untuk mempertaruhkan diri
jangan beriba padaku, Tuhan
Berilah aku keberanian
untuk selalu mengenakan Kristus.
dalam hidup harianku, justru ketika aku tahu,
hidup mengenakan Kristus itu
akan membuatku aneh danlucu
hingga dunia mentertawakan aku

Ku Diam DihadapanMu

Tuhan
aku ingin diam dihadapan-Mu
agar aku dapat terbebas dari diriku,
berikanlah kembali padaku diam itu.
Sejenak aku ingin meletakkan
semua keinginanku
semua rencanaku
semua kegembiraanku
semua kesedihanku.

Dari kedalaman hatiku
aku mau
Kau berbicara
Kau tinggal disana
Kau berada didalam diriku,
disekelilingku,
diatasku dan dibawahku.

Sejak aku ingin mencintai-Mu
tanpa syarat
dan prasyarat apapun
seadanya
tanpa memandang
layak tidakkah aku
terlepas dari apa saja
yang menghalangi
aku mencintai-Mu.

Aku mau
kebungkamanku
dan kata-kataku
dan perbuatanku
dan penderitaanku
dan harapanku dan cintaku
menyatu dalam diamku
di hadiratmu.

Aku tak ingin mengerjakan apapun
kecuali menerima,
mengambil apa yang Kau berikan
membuka diri untuk semua
yang Kau kerjakan kepadaku.

Tuhan,
bersabdalah sepatah kata saja
maka akan ringankanlah jiwaku.

(Diterjemahkan dari: Helge Adlphse: Minute Gebete, Stuttgart 2000. hlm 99-gts)

Jumat, 06 April 2012

Menundukan Kepala

Tindakan menundukkan kepala atau berlutut 
bagi seorang Katolik pada saat merayakan perayaan liturgi di  Gereja 
bukanlah untuk cara menyembah patung, 
tetapi untuk mempertautkan kembali suara "masa" 
yang  ketika "hal yang luhur dan mulia" terjadi sebagai bagian dari" kenyataan sehari-hari", 
misalnya masa kemerdekaan atau masa kebebasan. 

Kini, 
dalam patung-patung dan bangunan-bangunan modern, 
ornamentdan kementerengan makin ditonjolkan : 
di sana, melalui media itu, 
kita ingin memuja kenangan tentang diri sendiri . 

Tentu saja, 
kenangan yang kita pilih, 
sesuai dengan hasrat kita untuk dipercaya 
juga seusia dengan kecemasan kita untuk tidak percaya.



Gereja St. Athanasius Agung, Semarang
Jumat Agung, 6 April 2012