iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Idiokrasi dalam Kepemimpinan Politik



Kata "idiokrasi" berasal dari kata Yunani "idios" (sendiri/pribadi) yang merujuk pada "kebodohan" atau kurangnya kecakapan publik) dalam menatas "kratos" (kekuasaan). 

Sederhananya, idiokrasi adalah sistem pemerintahan atau struktur sosial yang dikelola oleh orang-orang yang dianggap tidak kompeten, tidak berpendidikan, atau tidak memiliki kapasitas intelektual yang memadai untuk memimpin.

Fenomena Idiokrasi dalam Politik

Istilah ini menjadi sangat populer berkat film satire tahun 2006 berjudul "Idiocracy" karya Mike Judge. Film tersebut menggambarkan masa depan di mana seleksi alam terbalik: orang-orang cerdas berhenti bereproduksi, sementara orang-orang dengan kecerdasan rendah bereproduksi dengan cepat, menghasilkan masyarakat yang dipimpin oleh bintang pegulat dan selebritas.

Dalam dunia politik nyata, idiokrasi sering dikaitkan dengan beberapa tren berikut:
  1. Anti-Intelektualisme: Penolakan terhadap sains, data, dan opini ahli demi "naluri" atau retorika yang emosional.
  2. Sirkus Politik: Prioritas pada hiburan (infotainment) di atas kebijakan substansial.
  3. Populisme Ekstrem: Pemimpin yang memenangkan suara dengan menyederhanakan masalah kompleks menjadi slogan-slogan kosong yang menarik bagi massa.
Contohnya Indonesia yang dipimpin oleh presiden dengan kabinet anti kritik yqng merujuk pada disiplin ilmu tertentu. Bahlil adalah menteri terdepan di lingkaran orang-orang idiot itu.

Bahlil pernah mengatakan bahwa cara berbisnis pemerintah itu tak ada di buku alias tak perlu ilmu pengetahuan untuk bekerja sebagai menteri. Contoh lain yang lebih nyata justru adadi Amerika Serikat, yang konon dianggap sebagai negara paling demokratis.

Faktanya, Amerika Serikat sering menjadi pusat diskusi mengenai idiokrasi karena pergeseran budaya politiknya yang sangat dipengaruhi oleh media sosial dan televisi.

Dua kali Amerika dipimpin presiden dan tim kerjanya yang sama-sama idiot.

Ini terjadi karena:
  • Selebritas sebagai Pemimpin Politik: Munculnya tren di mana popularitas di dunia hiburan dianggap sebagai kualifikasi yang cukup untuk jabatan publik. Donald Trump sering dikutip sebagai contoh utama "politik tontonan". Sebelum menjadi Presiden, ia adalah bintang reality show. Gaya komunikasinya yang menggunakan bahasa sederhana, julukan kasar untuk lawan, dan fokus pada rating televisi dianggap sebagai perwujudan dari politik gaya "Idiocracy".
  • Teori Konspirasi dalam Pemerintahan: Masuknya tokoh-tokoh yang mempromosikan teori konspirasi ke dalam badan legislatif (Congress). Beberapa anggota legislatif di AS secara terbuka meragukan sains dasar (seperti perubahan iklim atau efektivitas medis) atau mendukung teori konspirasi seperti "QAnon". Di titik ini, para pembuat kebijakan lebih mempercayai narasi internet daripada laporan intelijen atau saintifik, ini dianggap sebagai ciri runtuhnya kompetensi birokrasi.
  • "Soundbite Culture" vs. Substansi: Di Washington D.C., kemampuan seorang politisi untuk membuat pernyataan viral di media sosial (X/Twitter atau TikTok) kini sering kali dianggap lebih penting daripada kemampuan mereka untuk merancang undang-undang yang kompleks. Contoh, perdebatan tentang batas utang (debt ceiling) yang sering kali diubah menjadi ajang saling ejek di depan kamera, bukan diskusi teknis mengenai makroekonomi.

Mengapa Idiokrasi bisa terjadi?

Beberapa sosiolog berpendapat bahwa idiokrasi bukanlah soal "orang menjadi lebih bodoh", melainkan soal desain sistem:
  1. Algoritma Media Sosial: yang berujung pada tindakan menghargai kemarahan dan penyederhanaan, tapi membenci kedalaman berpikir.
  2. Krisis Pendidikan: Menurunnya Trump cs, kemampuan berpikir kritis justru membuat pemilih lebih mudah dimanipulasi oleh retorika populis.
  3. Pendanaan Politik: Kampanye membutuhkan uang banyak, yang sering kali didapat melalui aksi-aksi teatrikal yang menarik perhatian donor, bukan melalui kerja legislatif yang sunyi.
Saya jadi teringat perkataan Prabowo yang ingin mendamaikan Perang Israel dan Amerika vs Iran, atau perkataan Prabowo yang menterjemahkan MBG sebagai penciptaan lapangan kerja. Anda juga mungkin masih ingat kata-kata Bahlul, kalau stok minyak kita sangat aman untuk 3 tahun ke depan.

Di dunia digital, idiokrasi bertumbuh subur. Mereka yang tak bukan teolog tiba² bikin podcast tentang agama, atau bukan dokter atau apoteker tetapi berani mendikte pasar bahwa ia lebih pintar dadi dokter manapun soal obat.

Di indonesia, kelakuan idiot bahkan dianggap hebat. Pembunuhan dengan mutilasi bisa jadi trending di media, sama seperti kehidupan seks suami-istri diumbar ke publik.

Orang tolol emang akan melakukan apa saja demi menambah follower, ingin viral, atau supaya dianggap selebritas.

Inilah kiamat nya ilmu pengetahuan di dunia politik. Sebab, makin banyak negara demokrasi yang presiden dan para pemimpin daerahnya justru berasal dari golongan idiot.


Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.