iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Hipokritisme Dalam Ritual Pesta Adat Batak


Ini yang terjadi saat ini. Sinkretisme antara budaya modern dan ritual adat begitu menggoda. Bagi yang tidak paham ruhut-ruhutni adat (tata aturanvadat) Batak Toba, mereka akan mengira semua nasihat, irama musik, dan pernak-pernik adat sama saja: baik dalam upacara sukacita maupun dukacita.

Mulai dari gondang mula-mula, somba-somba, hingga pasu-pasu, dst, iramanya sama saja. Jangan terkejut melihat gondang menjadi pengiring penyanyi. Vokalis tampaknya lebih menonjol daripada alat musik dan pemusik. Keyboard begitu mendominasi dibanding gondang, ogung, atau sarune.

Lagu-lagu gereja dan lagu-lagu joged yang sedang treding justru mendominasi. Tak peduli kelompok hulahula, boru, hela, boru dan odoran siapa yang lagi masuk. Irama bergenre pop, dangdut, regge, salsa, bahkan rumba jaug lebih dominan dibanding irama chaca yang melekat dengan gondang Batak Toba.

Untung saja gak ada musik jazz. Kalau tidak, para panortor (penari) akan kesulitan mengekspresikan tarian mereka.

Itu baru soal musik, instrumen dan sarana adat. Kita belum bicara soal "parpeakni adat" (tata ururan ritual adat). Urutan memberi sambutan/nasihat, jenis musik yang mengiringi, bahkan siapa saja yang berhak jadi parhata (jurubicara).

Hampir bisa dipastikan, upacara adat (duka atau duka) sekalipun tak ada bedanya.
Para hadirin akan duduk atau berdiri secara semrawutan. Semua orang berebutan dan berdesakan. Acara makan pun sering jadi penyebab lahirnya kerumunan.
Tapi di atas semua hal yang suar-sair (amburadul) di atas, ada 3 hal positif yang bisa kita temukan di setiap pesta adat Batak.

Pertama, pesta adat menjadi ajang perjumpaan antar anggota keluarga inti, extended family, hingga debgan dongan sahuta (teman-temab yang berasal dari kampung saM.

Kedua, pesta adat menjadi ajang reuni bagi sebagian besar hadirin yang datang. Tak jarang, di pesta-pesta adat, anak muda menemukan jodohnya, dan para pebisnis mendapat customer barunya.

Terakhir, di pesta Batak akan memperlihatkan eksistensi tuan pesta: apakah dia ora g baik, banyak teman, atau disenangi masyarakat di sekitarnya. Termasuk si dalamnya, apakah tuan pesta aktif si huria (gereja) atau malah tertutup dan asing bagi warga sekitarnya.

Bagi mereka yang sudah terbiasa menghadiri (juga melakukan) pesta adat Batak, pesta adalah momentum penting. Di sisi lain, mereka yang sibuk dengan pekerjaannya akan berupaya hadir tapi pada saat giliran mereka "mandok hata".

Pesta harusnya merupakan seni. Seni itu terkait dengan keindahan. Apakah sebuah pesta adat Batak Toba layak disebut sebagai seni, itu tergantung para subyek yang terlibat langsung dengan pesta.

Katena ini tergantingbsubyek, maka, selama pesta-pesta adat dijalankan dan masih banyaknorang yang datang, maka bisa disimpulkan kalau pesta adat Batak Toba itu masih penting.

Walau banyak yang menggerutu, tapi omong kosong yang keluar dari mulut setiap orang yang memberi nasihat masih saja didengar.

Jadi, "Andigan do pesta i?" sama saja artinya dengan "Kapan kamu merasakan sumpeknya pesta perkawinan adat Batak Toba?"

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.