iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Obyektivitas Media

Obyektivitas Media


Tak ada media yang sungguh obyektif, alih-alih jujur dalam memberitakan apa pun yang mereka liput. Media butuh dana untuk mengoperasikan bisnisnya: menggaji wartawan, akomodasi reporter hingga gai seluruh stafnya.
Apalagi, saat ini media digital tak kekurangan berita. Bahkan bisa dikatakan, wartawan dan jurnalis tak dibutuhkan lagi. Medsos lebih cepat meliput setipa peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. So, media konvensional sekaliun cukup meminta izin atau main comot aja dari postingan netizen lalu mereduksi ulang dengan bahasa sedikit formal.
Milyaran pengguna medsos, yang tersebar di planet ini selalu memposting isi pikiran, ekspresi emosional, bahkan opini mereka tentang apa saja yang lewat di beranda akun medsos mereka.
Wartawan atau reporter tak perlu lagi menunggu koran terbit esok pagi ketika terjadi peristiwa pembunuhan pkl 03 00 dini hari. Sebab, disaat yang sama, berita pembunuhan itu pasti sudah diposting netizen di lokasi itu. Secara live pula. Jadi, jeda waktu antara peristiwa dan berita sudah semakin pendek.

Ini paradoks kemajuan teknologi komunikasi di era digital saat ini. Setiap peristiwa bisa kita "lihat" secara live. Kalau anda online 24 jam, maka Anda tak akan pernah keinggalan berita terbaru dari seluruh lapisan dunia. Hanya saja bertia-berita politik pasti sudah disaring terlebih dahulu.
Misalnya, sejak pertengahan Maret lalu, senua media sibuk membahas perang Israel + USA yang menyerang Iran. Dan orang lupa bahwa 200jt bantuan kampanye dari AIPAC yang beranggotakan pengusaha Yahudi dan Eipstein yang membombardir media dengan files tentang kejahatan Trump dkk, justru membuat posisi Trump lemah dan ia jadi budaknya Netanyahu (Israel) hingga hari ini.

Nah perang sendiri dinaikkan terus di media untuk menutupi files Epstein yang sudah kadung tersebar luas. Itu sebabnya perang ini tak diinginkan rakyat dan pejabat tinggi Amerika, dan menjauhkan negara-negara Eropa dari Amerika Serikat.
Berita yang diposting media mainstream hanyalah kemanangan Israel + USA atas Iran. Sedemikian, hingga mereka secara serentak mendiamkan kelakuan Israel yag membombardir Libanon Selatan. Padahal semua tahu kalau AS-Israle ta mungkin bisa memenangkan perang ini. Selat Hormus tetap dibuka, pangakalan militer Amerika malah diserang dan hancur, dan banyak tentara Amerika yang gugur. Sementara Amerika cuma bisa membunuh anak-anak dan beberapa pejabat Iran.
Syukurlah ada saja akun medsos yang memposting apa ya g terjadi di Libanon dan kekejaman Yahudi terhadap umat Kristen di Yerusalem dan Palestina, dan mereka tak kena sensor. Jadi kita tahu beberapa fakta yang tak ada di berita.
Begitu juga, saat rakyat Amerika digiring media untuk memberitakan kemanangan Amerika di Iran Trump sebagai budak elit global begitu yakin kalau berita tentang Epstein Files tak akan diliput media. Lantas apa yang terjadi? Akun-akun medsos, terutama di Meta (IG, Threads, WhatsApp) dan X milik warga USA justru lebih tertarik membahas Epstein Files daripada bicara tentang ketoloaln Trump.
Hasilnya, dunia menjadikan Trump sebagai badut yang dimusuhi dan hingga kini masih tetap jadi bahan lelucon. Demikian juga, semakin banyak negara yang berani membenci Trump, alih-alaih ada yang menyukai majikannya Trum, Benjamin Netanyahu.

Namun elit global seakan tak mau menyerah. Demi mengalihkan perhatian warga USA yang membahas konspirasi mereka kembali mereka pakai cara lama. Pimpinan satanic gropu, Bill Gates dak dokter Fauci kembali disorot media. karena mereka berlaku bak Tuhan yang menentukan berapa orang saja yang layakn hidup dan sisaanya harus dibunuh lewat virus dan vaksin jualan merek.
Para pebisnis medis digunakan untuk mempromosikan ketakutan itu. Para aktor berbaju medis dibayar untuk berakting seakan-akan dunia sudah gempar dengan virus dan saatnya membeli vaksin jualan mereka. Video tim medis yag sedang menyelamatkan korban terpapar hantavirus akhirnya ketahuan palsu.
Para podscaster mentertawakan mereka. Nerizen menyerbu akun medsos mereka dengan makian dan hujatan. Dalam hatinya, Bill Gates pasti pusing tujuh keliling, "Kok bisa begini ya?" Sayangya, WHO sengaja belum berkomentar, karena mereka masih menunggun setoran awal dari Bill gates,

Persoalannya, berita yang kita baca lewat berbagai akun medsos dan podcast, juga tv non komersial itu tak pernah "ditanpilkan secara utuh". Setiap netizen hanya mempublikasi cuplikan video atau ringkasan berita di medsos, yang entah disaksikan lagsung afau justru editan A.I.
Tapi paling tidak, perilaku pembaca juga berubah orang tak lagi tertarik mengetahui sebuah peristiwa secara utuh.
Orang jauh lebih tertarik membaca judul berita dripada isinya. Dengan minat baca yang sangat rendah, kita maklum mengapa hari-hari ini manusia pun tak pernah tampil secara utuh.
Pesannya cuma satu: banyak baca, baca, dan baca. Jangan hanya scroll tiktok.


Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.