iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Kekuasaan Politik dan Glorifikasi Diri


Pemilu seakan memaksa orang-orang yang bernafsu meraih kekuasaan untuk hidup di masa kini (hic et nunc). Meaka mereka rela menghabiskan uang yang telah mereka kumpulkan (dengan cara halal atau haram) saat ini karena yakin setelah memangkan pemilu uang mereka akan kembali berates-ratus kali lipat. Gayung bersambut. 

Masyakarat Indonesia terkenal konsumtif dan selalu terobsesi pada segala sesuatu yang bisa dibeli. Masyarakat tak peduli dari mana datangnya uang dan demi tujuan apa para calon penguasa itu memberi uang. Hal terpenting adalah para caleg memberi mereka uang berikut janji akan membantu mereka lagi kalau mereka pilih. Sejalan dengan itu, masyarakat juga berjanji hanya akan memilih si capres dan calon kepala daerah atau caleg yang telah memberinya uang. 

Rakyat sadar bahwa para caleg itu pasti berbohong. Walaupun tak bisa dijadikan alasan, tapi faktanya rakyat juga ikut berbohong dan tidak selalu memilih para calon penguasa yang telah memberinya uang di masa kampanye.

Ini soal glorifikasi diri, memuliakan diri sendiri. Di dalam keluarga, komunitas, organisasi, partai, bahkan negara sekalipun, prinsip “berhutang demi terlihat kaya” sudah melekat dengan masyarakat kita. Presiden Jokowi pun menggandakan utang setiap tahun untuk membangun infrastruktur yang menterneg. Tentu keberhasilan ini juga menjadi monument dan gerbang bagi Jokowi untuk memenuhi hasrat pemuliaan dirinya sendiri (self-glorification). 

Demi glorifikasi diri ini pemerintahan Jokowi justru tak menyadari bahwa para menteri dan pejabat publik lain ternyat sangat rakus. Mereka bukan hanya memakan uang APBN, tetapi juga merampak uang hasil hutang tadi. Itu sebanya korupsi merjalela dan pola hidup hipokrit menjadi tren tersendiri selama 10 tahun terakhir.

Hasrat akan kuasa, hasrat akan kepuasan seksual dan kesenangan-kesenangan panca inderawi lainnya adalah contoh umum lain dari fokus khusus manusia kontemporer yang hidupnya memang berpusat pada “masa sekarang”. Industri hiburan selalu hadir demi memuaskan rasa lapar manusia: lagi dan lagi! Semua menawarkan “keasyikan hidup” di masa kini. 

Secara tidak sadar pemerintah dan masyarakat Indonesia telah mempromosikan narsisme secara berlebihan. Pribadi-pribadi, yang dulunya begitu setia pada tradisi dan sadar akan masa depan mereka kini malah turut larut dalam limitasi yang melekat pada pemanjaan diri dan kepuasan pribadi mereka.
 

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.