Anda ingin bertemu sinterklas? Datanglah ke negeri kami, Indonesia pada saat Pemilu. Menjelang Pemilu orang-orang baik akan muncul tiba-tiba. Mereka tiba-tiba berubah menjadi sosok yang perhatian kepada orang sekitar, bahkan berempati terhadap orang-orang miskin.
Semakin pasti terdaftar sebagai Daftar Calon Tetap (DCT) mereka akan semakin getol mempertontonkan diri sebagai orang baik dan penuh perhatian kepada sesamenya. Tak heran ketika di masa Pemilu kita selalu mendengar ungkapan genit ini, “Kalau ada orang yang tiba-tiba baik saat ini, berarti dia mau caleg.”
Secara gamblang bisa disebut 3 alasan mengapa kebiasaan lima tahunan ini terjadi.
Pertama, mayoritas masyarakat Indonesia adalah masyarakat religious-ritualis, yakni yang menaruh ritual agama sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan sesuatu.
Secara gamblang bisa disebut 3 alasan mengapa kebiasaan lima tahunan ini terjadi.
Pertama, mayoritas masyarakat Indonesia adalah masyarakat religious-ritualis, yakni yang menaruh ritual agama sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan sesuatu.
Masyarakat kita yakin bahwa segala kemajuan yang dicapai bangsa ini bukanlah karena kemampuan akal budi manusia (yang dianugerahkan Tuhan), tetapi melulu karena takdir Tuhan. Maka, orang yang tampak berbuat baik di menjelang pemilu turut memengaruhi tingkat keterpilihannya. Bukankah ia akan mendapat pahala dari perbuatannya?
Kedua, dari pengalaman para caleg, berpura-pura baik kepada masyarakat di Daerah Pemilihan (Dapil)-nya jauh ternyata telah terbukti lebih ampuh dibanding rekam jejak si calon dalam kesehariannya. Terakhir, masyarakat yang mayoritas (bermental) miskin lebih mementingkan apa yang telah diberikan para caleg atau calon kepala di masa kampanye daripada yang akan mereka bangun setelah menang dan menjabat.
Kedua, dari pengalaman para caleg, berpura-pura baik kepada masyarakat di Daerah Pemilihan (Dapil)-nya jauh ternyata telah terbukti lebih ampuh dibanding rekam jejak si calon dalam kesehariannya. Terakhir, masyarakat yang mayoritas (bermental) miskin lebih mementingkan apa yang telah diberikan para caleg atau calon kepala di masa kampanye daripada yang akan mereka bangun setelah menang dan menjabat.
Fakta bicara bahwa mereka yang sudah menang hamper pasti akan melupakan orang-orang yang berjasa memenangkannya, juga rakyat yang telah memilihnya. Mereka akan focus mencuri uang negara untuk menutupi biaya kampanye mereka sekaligus modal untuk pencalonan 5 tahun yang akan datang.



Posting Komentar