Jelas sekali bahwa mayoritas warga Sumut punya marga, tak peduli aga-manya apa. Bahkan ketika orang Jawa yang sejak Orla dan Orba dipaksa menjadi buruh kebun Teh dan Karet di Sumut dan tak punya marga pun sudah ikutan berinteraksi dengan sesama mereka dengan menyebut panggilan ala Batak, Nias dan Tionghoa yang memang punya marga.
Begitu juga dengan orang Melayu-Deli yang konon katanya adalah penduduk asli Kota Medan. Minimal orang Jawa tadi malah ikuta-ikutan membuat kumpulan sesama Jawa dalam wadah PujaKeSuma, atau bisa saja PujakeSuma.
Di sisi yang berbeda, para tokoh masyarakat yang tak punya marga, seperti Pang-lima TNI yang menurut banyak warganet diam-diam kepengen jadi presiden itu, Ketua PSSI / Pangkostrad yang konon katanya kepengen nyagub di Sumut, atau para pejabat penting lain pun yang bukan Batak pun, bila datang ke Medan, mereka akan rela diberi marga bila ingin "dihormati".
Di sisi yang berbeda, para tokoh masyarakat yang tak punya marga, seperti Pang-lima TNI yang menurut banyak warganet diam-diam kepengen jadi presiden itu, Ketua PSSI / Pangkostrad yang konon katanya kepengen nyagub di Sumut, atau para pejabat penting lain pun yang bukan Batak pun, bila datang ke Medan, mereka akan rela diberi marga bila ingin "dihormati".
Lagi dan lagi, hal ini erta terkait dengan kepentingan politik. Ya, minimal agar masyarkat Sumut akan mendukungnya secara "kekeluargaan". Terkait hal ini, saya sering bercanda ke teman-teman di Medan: “Republik Indonesia Serikat (RIS) yang pernah diproklamirkan Pemberontak di masa Orde Lama tampaknya sangat cocok dengan karakteristik warga Sumut.”
Bagaimana tidak, di setiap pelosok, kampung, bahkan gang-gang kecil di perkotaan selalu dipenuhi oleh Serikat berlabel STM (Serikat Tolong Menolong). STM ini biasanya didasarkan pada daerah asal, marga atau kumpulan marga serumpun, dst. STM ini semacam kelompok diaspora yang berkumpul dan berorganisasi atas dasar kesamaan tertentu. Anehnya perkumpulan berdasarkan marga ini sering lebih kompak, lebih fight dan lebih fanatik dibanding kelompok berdasarkan agama yang telah disinggung di atas.
Apabila politik yang dijalankan berdasarkan polarisasi agama, maka logikanya akan begini:
Bagaimana tidak, di setiap pelosok, kampung, bahkan gang-gang kecil di perkotaan selalu dipenuhi oleh Serikat berlabel STM (Serikat Tolong Menolong). STM ini biasanya didasarkan pada daerah asal, marga atau kumpulan marga serumpun, dst. STM ini semacam kelompok diaspora yang berkumpul dan berorganisasi atas dasar kesamaan tertentu. Anehnya perkumpulan berdasarkan marga ini sering lebih kompak, lebih fight dan lebih fanatik dibanding kelompok berdasarkan agama yang telah disinggung di atas.
Apabila politik yang dijalankan berdasarkan polarisasi agama, maka logikanya akan begini:
- Tesis : Saragih adalah jemaat aktif di HKBP Kabanjahe
- Antitesis:HKBP secara resmi mendukung JR Saragih
- Sintesis: Saragih tidak harus memilih JR Saragih Pilgub Sumut, karena ternyata yang membantu pembangunan gereja mereka adalah Tengku Nurdin yang didukung Marga Sitorus.
Namun, apabila polarisasi marga yang terjadi, maka logikanya akan seperti ini:
- Tesis: Saragih adalah jemaat HKBP dan pengurus inti pada Kumpulan Marga Parna sebagai rumpun marganya.
- Antitesis: Kumpulan Marga Parna secara resmi mendukung JR Saragih.
- Sintesis: "Sonaha pe ningon, samarga do homa hami pakon JR Saragih on." (Biarbagaimanapun JR Saragih itu semarga dengan kami).
Tapi paling asyik adalah ketika Anda berani pura-pura bergaul dan ikut bergumul dengan kelompok marga tertentu dan segeralah tuntaskan kesulitan dana kelompok marga itu. Bila hal seperti ini Anda lakukan, maka Anda tinggal menunggu hasil Quick Count saat Pilgub Sumut berlangsung tahun depan.



Posting Komentar