Sepintas terlihat betapa mudahnya politisi di negeri ini menduduki sebuah jabatan penting. Selagi punya banyak duit, sang politisi gampang bikin sensasi, bahkan aktingnya melebihi para pesohor elektronik di sinetron-sinetron asuhan Mr. Punjabi. Para politisi itu selalu tahu mengisi proses panjang pencapaian tahta yang ia inginkan selama pesta demokrasi. Maksud saya, dalam hal cari-mencari dukungan.
Kita tahu bahwa jumlah kelompok massa pendukung adalah salah satu jaminannya. Tak peduli ia maju lewat partai atau independen. Walaupun pada praktiknya, terutama di Sumut kemungkinan calon independen memenangkan pemilu sangatlah kecil. Itu juga kalau sang petahana dipandang bagus kerjanya.
Pada tahun 2018 Sumut mengadakan Pilkada. Setahun sebelum Pilkada, dua pasang calon gubernur Sumut sudah mulai wara-wiri, lalu-lalang ke sana-ke mari, mencari kawan lama sembari mengingat-ingat teman lama yang ada di daerah-daerah di Sumut. Mereka memang sedang beruapaya meyakinkan masyarakat bahwa ia adalah teman lama yang baru ketemu.
Pada tahun 2018 Sumut mengadakan Pilkada. Setahun sebelum Pilkada, dua pasang calon gubernur Sumut sudah mulai wara-wiri, lalu-lalang ke sana-ke mari, mencari kawan lama sembari mengingat-ingat teman lama yang ada di daerah-daerah di Sumut. Mereka memang sedang beruapaya meyakinkan masyarakat bahwa ia adalah teman lama yang baru ketemu.
Fakta semacam ini bahkan sudah berjalan satu hingga dua tahun sebelum Pilgub Sumut diselenggarakan. Tentu saja Partai adalah jaminan utamanya. Ya, minimal sebagai proklamator pencalonannya. Namun dukungan partai jelas sekali bukanlah jaminan termanjur. Termasuk ketika partai pendukungnya itu partai pemenang pemilu teranyar.
Kenyataannya ia lebih butuh dukungan massa yang lebih nyata dari-pada besarnya prosentasi kemenangan partai pendukugnya. Bukan apa-apa, terlalu banyak contoh nyata yang membuktikan kesahihan pernyataan saya ini. Lantas, kemana harus mencari kawan? Misalnya saja si X adalah cagub yang sudah mengumandangkan pencalonannya.
Kenyataannya ia lebih butuh dukungan massa yang lebih nyata dari-pada besarnya prosentasi kemenangan partai pendukugnya. Bukan apa-apa, terlalu banyak contoh nyata yang membuktikan kesahihan pernyataan saya ini. Lantas, kemana harus mencari kawan? Misalnya saja si X adalah cagub yang sudah mengumandangkan pencalonannya.
Tentu ia sudah barang pasti takkan peduli seberapa besar ongkos politik yang akan ditanggungnya. Tak hanya itu, ia juga pasti sudah kenal betul daerah tempat ia mencalonkan. Cagub Sumut pasti tahu mentalitas masyarakat Sumut, termasuk cara mengumpulkan pendukung, terutama selama ia menjadi balon hingga calon. Maka ia juga harus tahu bahwa di Sumut ini, organisasi atau lembaga apa saja yang paling efektif mengumpulkan massa.
Sejauh saya alami sendiri saat Pilkada Kabupaten Simalungun (2015) dan Pilkada Kota Siantar (2016) lalu, kelompok sentral dan punya pengaruh yang signifikan di Sumut adalah pemimpin agama, komunitas marga dan ormas. Anggaplah tulisan ini sebagai saran saya kepada para balon gubernur Sumut yang akan bertarung tahun depan. Mari kita lihat satu per satu.
Sejauh saya alami sendiri saat Pilkada Kabupaten Simalungun (2015) dan Pilkada Kota Siantar (2016) lalu, kelompok sentral dan punya pengaruh yang signifikan di Sumut adalah pemimpin agama, komunitas marga dan ormas. Anggaplah tulisan ini sebagai saran saya kepada para balon gubernur Sumut yang akan bertarung tahun depan. Mari kita lihat satu per satu.


Posting Komentar