Kenapa ya mayoritas orang Indonesia malas membaca buku? Pasti bukan karena mereka bodoh. Alasan paling mendasar, ya karena dari awal kita gak pernah diajarin bahwa membaca itu menyenangkan dan bisa menyelamatkan hidup.
Mestinya sih anak-anak diajak untuk membaca buku “How to Read a Book” karya Mortimer J. Adler. Sebuah buku klasik yang mengajarkan “cara” membaca sekaligus alasan “kenapa” kita harus membaca:
“The person who says he knows what he thinks but cannot express it usually does not know what he thinks.” (Orang yang bilang dia tahu apa yang dia pikirkan, tapi tidak bisa mengungkapkannya, biasanya tidak tahu apa yang dia pikirkan.)
Kutipan ini menegaskan betapa minimnya minat baca (di Indonesia) akan berdampak langsung terhadap rendahnya kualitas berpikir dan kemampuan menyampaikan ide.
Banyak orang susah berpikir jernih karena referensinya cuma MEDSOS dan HEADLINE BERITA ONLINE, bukan buku dan pemahaman mendalam.
Sederhananya, minat baca yang sangat minim di masyarakat kita terkait dengan kesalahan dalam "membudayakan minat baca" itu sendiri.
Bayangkan, dari kecil, membaca buku itu malah dipaksa, bukannya dikenalkan. Akibatnya mindset-nya anak-anak, membaca itu hanya menyelesaikan tugas (PR), bukan sebuah petualangan seru.
Tak hanya di rumah tangga, akses buku berkualitas di sekolah sekalipun amat sangat terbatas. Di kota besar mungkin ada beberapa perpustakaan, tapi di banyak daerah, buku bagus susah dicari.Bagi pelajar dan mahasiswa, literasi selalu kalah oleh hiburan digital. Secara pragmatis selalu bertanya: "Untuk apa baca buku 300 halaman kalau toh scroll Tiktok 30 detik lebih menarik?"
Harus diakui, lingkungan kita itu tidak mendukung budaya baca. Jarang banget melihat orang dewasa di sekitar kita sedang membaca buku. Gimana anak-anak kepengen baca buku? Hal ini makin ditegaskan olh sistem pendidikan yang hanya fokus pada ujian, bukan pemahaman. Akhirnya pelajar dan mahasiswa hanya akan membaca bukan supaya mengerti isinya, tapi hanya untuk mendapatkan nilai (bagus).
Kita tidak tahu, apakah dengan berbagai gerakan literasi, termasuk yang sudah hampir satu dekade digagas lewat Sapo Literasi oleh Atmaja Sembiring Persapo-sapo dkk di daerah Karo telah, sedang dan akan berhasil meningkatkan minat baca masyarakat?
Jangan salah. Kita, terutama sebagai orang yang sudah merasakan pentingnya membaca buku, harus mendukung teman-teman kita di Indonesia ini yang berupaya melatih, membangun niat dan hingga membiadakan anak-anak untuk mencintai buku.
Tapi itu semua tergantung Anda sebagai orangtua. Apakah Anda ingin anak Anda seperti Gibran atau Bahlil yang tak suka membaca tapi bisa menjadi wapres dan menteri ESDM dan mengacak-acak logika berpikir masyarakat kita?
Atau, anda ingin anak menjadi orang yang mau berpikir hingga tidak selalu mengambil keputusan terburu-buru dalam hidupnya? Kalau Anda ingin anak anda bisa berpikir, maka satu-satunya cara adalah anda harus membiasakan anak anda suka membaca dan berkelana lewat buku yang dibacanya.
Ubahlah pandangan bahwa "membaca buku itu beban", karena membaca buku ibara mengisi bensin buat nalar dan jiwa anda. Hal ini diamini, bukan saja oleh Atmaja Sembiring Persapo-sapo tapi juga istrinya @Jesika Ginting dan rekan-rekan lain di #SapoLiterasi


Posting Komentar