iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

RIP Na Resta



Na Resta adalah nama panggilan akrab alm. Nai Resta (kini mendapat gelar baru Op. Evi br. Pandiangan.

"Dang Namborumu au. Ito mu do au, amang," kata Na Resta setiap saya sapa namboru. Suaminya, Ama Resta Sinaga (alm) juga selalu merasa lebih nyaman dipanggil lae.

Na Resta adalah sahabat dekat mamaku, Nai Pendi atau Op. Christopel br. Sitanggang (alm). Saya kenal dekat almarhumah yang meninggal hari Rabu, 27 Juni lalu. Tentu saja, karena saya sudah kenal beliau sejak saya SD hingga SMP tahun 90an di kampung.

Mamaku selalu menegurku saat aku memanggilnya "Ito Na Resta", apalagi kalau sudah kupanggil "Inang na mokmok".

"Namborum do i, Lusius," begitu kata mama. Padahal orang bersangkutan selalu hanya tertawa terpingkal-pingkal.

Saya bahkan sering meledek keduanya, Na Resta dan Nai Pendi sebagai dirigen yang tak tahu ketukan, birama, alih-alih tau metronom lagu.

"Molo martak hamu nadua, sahira inang-inang najolo tikki manortor," candaku saat mereka latihan kor di rumah kami.

Begitulah Na Resta sudah malang melintang sebagai dirigen dan lektor di ibadat hari minggu. Ia selalu sabar melatih umat bernyanyi 30-15 menit sebelum ibadat/misa.

Sesungguhnya, suara ibu-ibu di jaman itu memang luarbiasa. Mereka bisa jadi pelatih kor hingga dirigen hanya dengan cara otodidak.

"Molo hami di huta on, ito...molo marguru marende ikkon takkap baba do!" kata Na Resta saat saya libur saat masih sekolah di Seminari.

Seingatku, kedekatan Na Resta dan mamaku bukan hanya melulu karena sama-sama kelahiran Samosir, atau ada perrautan keluarga entah darimana.

Tapi saya tahu, keduanya punya minat dan misi yang sama. Keduanya lahir Katolik dan masih didikan misionari Belanda. Bisa dikatakan bahwa keduanya tergolong fanatik alias sangat cinta pada gereja.

Selain Na Resta dan Nai Pendi, sebetulnya ada beberapa ibu yang juga punya semangat yang sama. Sebut saja, ma Anton, ma Belly Damanik, ma Ronal, dst.

Mereka ini m sama-sama pengurus di Gereja Katolik Stasi Bahtonang di masa kepem8mpinan Voorhanger A. Benyamin Nainggola, OM Garingging, hingga Alamsyah Saragih. Alm bapak saya, Op Christophel Sinurat, A. Monika Simbolon, A. Ronti Sinaga, dan beberapa bapak yang saya lupa namanya juga menjadi pengurus di gereja bahkan hingga di masa tua mereka.

Kembali ke Na Resta. Ia adalah salah satu pengurus yang tekun dan peduli pada detail. Sebagai bendahara beberapa periode, beliau tak hanya cermat menghitung kolekte dan mengelola kas, tapi juga piawai memimpin lagu saat Misa atau ibadat Hari Minggu.

Waktu saya masih kuliah di Bandung, saya selalu menyempatkan diri libur 10 hari di kampung. Ajaibnya, "Duo Maya", Nai Pendi dan Na Resta masih saja bersahabat seperti dulu.

Apapun acara di rumah, mama selalu ingat sahabatnya itu. Begitu juga sebaliknya. Bahkan, sejak saya SMA hingga kuliah, setiap kali pulang liburan mama selaku berpesan, "Unang lupa ho permisi tu namborum, Na Resta da!"

Saya memang masih menyaksikan dengan jelas bagaimana si "duo maya" ini lebih sering mengurusi Stasi. Entah sudah berapa kali mereka mengikuti kursus di paroki, mengantar durung-durung, rapat di Stasi Sorba Dolok, Stasi Nagaraja, Stasi Gunung Pamela dan Stasi Bangun Raya.

Saya bahkan ingat dengan jelas, bersama pengurus stasi lainnya mamak sangat sibuk mempersiapkan diri menghadiri kunjungan Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989.

Tak heran, ketika saya bertemu Mgr. Dogma M. Situmorang (+) di Bandung tahun 2001 lalu, beliau memberi salam secara khusis untuk "duet" Stasi Bahtonang, Nai Pendi dan Na Resta. Saat itu Mgr Dogma menjabat ketua KWI, yang sempat melayani umat di paroki Tebing Tinggi. Belaiu cukup sering asistensi dari Sinaksak ke Stasi Bahtonang.

Begitulah Na Resta yang bernama asli Demsi Pandiangan ini menjalani hidupnya secara seimbang.

Di rumah, ia adalah sosok istri yang tak saja berhasil menyejukkan atau mendinginkan emosi suami yang meluap-luap, tapi juga mendidik anak secara diaiplin yang tegas.

Sementara di gereja, ia tak hanya menjalankan tugas dengan baik, tapi juga mengayomi para para bapak-bapak pengurus Stasi. Ia selalu mengingatkan, "Molo nunga jadi pengurus, unang be antong sai lalap i kode tuak sampe tonga borngin."

Sejalan dengan itu, Na Resta juga selalu "memberi karpet merah" bagi para pengurus gereja saat mendampingi pastor yang berkunjung ke stasi.

Di era itu, kunjungan pastor masih sangat jarang, maka kunjungan itu selalu dinanti oleh umat. Dan jangan heran, sebagaimana pengurus lain, Na Resta adalah orang yang selalu orang terdepan mengundang pastor ke rumahnya.




Lama tak mendengar kabarnya. Bahkan saya pikir dia sudah "pergi beberapa tahun lalu". Ternyata beliau sudah lama terbaring sakit dan tak mampu lagi berjalan lincah seperti dulu.

Sebagai sahabat dari mamaku, yang akhirnya menjadi orang yang kuhormati, saya berdoa secara khusis untukmu sobat, Namboru Na Resta (Op. Evi br. Pandiangan).

Selamat jalan menuju Kerajaan Allah, tempat di mana rohmu bersatu dengan Kristus yang kaumuliakan sepanjang hidupmu.

Requiescat in pace.
Beristirahatlah dalam keabadian, sobat.

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.