iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Capres Kiri versus Capres Kanan

Capres kiri tidak pernah lelah mengumbar janji yang -maaf - gak akan mungkin bisa dia wujudkan. Nafsu akan kekuasaan tak pelak lagi menggiringnya menjadi seorang pembohong. Belum pernah ada di dunia ini capres menjanjikan akan menjadikan rakyatnya kaya.

 Hanya iblis yang menjanjikan kekayaan yang bukan miliknya kepada orang-orang yang sedang berpuasa. Padahal janji-janji segudang dari capres satu ini membuatnya makin tidak menarik bagi pemilih rasional. Semakin jelas mengapa ormas seperti FPI, FRB, dan beberapa orang yang irrasional tertarik dengan nya. 

Di titik inilah kapitalisme akhirnya berhasil memenuhi seluruh aspek kehidupan, termasuk politik: menjual apa saja, termasuk yang tidak ada. OMG

Capres kanan selalu tak melupakan sejarah. Ia setiap pada dasar negara yang telah diletakkan oleh para pendiri bangsa ini. Setiap tanggal 1 Juni kita sebagai bagian dari Republik Indonesia diingatkan bahwa dasar negara kita PANCASILA, bukan yang lain... apalagi dasarnegara yang hendak diimpor oleh beberapa partai dari negara lain. 

Bagi capres kanan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai berketuhanan, berperi-kemanusiaan, bersatu, berkerakyatan, dan berkeadilan sosial. Capres Kanan identik dengan para politisi yang memainkan isu agama dalam meraih kekuasaan. Ada satu pernyataan yang kontraproduktif dari para politisi yang kebetulan beragama, "Jangan campuradukkan politik dengan agama! 

Pernyataan ini seakan-akan BENAR bila merujuk pada cara para politisi itu menjalankan tugasnya. Tentu sebagai penguasa yang haus tahta! Tetapi serentak pernyataan ini juga sebagai PEMBENARAN atas tindakan mereka yang keluar dari ajaran agama yang mereka anut.

Kronologinya hidup mereka pun seakan berjalan dalam siklus ini: sebelum menjabat (ber-Tuhan) - saat menjabat (tidak ber-Tuhan) - setelah pensiun (kembali ber-Tuhan). Enggak enak di Tuhan dong kalau gitu. Gimana enggak? 

Saat kampanye: Tuhan dijadikan alat kampanye; Saat menjabat: melarang masyarakat membawa-bawa agama saat ia salah; dan setelah pensiun: masa pertobatan, dan agama menjadi obat penyembuh kejahatan yang telah dilakukan semasa menjabat.

Dalam satu pertemuan, teman saya gemes dengan seorang anggota dewan yang mengamini kalau politik itu kotor. Kepada si anggota dewan itu ia lantas berang, "Apaan yang kotor. Kata siapa politik itu kotor? Ada juga otak sama nurani loe yang ngotorin politik". Tongon do ai baya (Beneran kagak tuh?)
 

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.