iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Politik dan Kekuasaan Pribadi


Dalam diri manusia terdapat dua perangkat utama, yaitu akal dan nafsu. Nafsu yang berlebihan itu cenderung buruk. Sementara fungsi akal adalah untuk menundukkan nafsu. Kehidupan kita sebenarnya dikontrol oleh kegunaan (utilitas) atau tingkat kepuasan. Jadi manusia itu dikontrol oleh tingkat kepuasan itu sendiri. 

Utilitas ada yang bersifat material, kepuasan material (benda, barang, uang, emas, dll). Orang baru merasa puas apabila menguasai material atau ekonomi. Utilitas kedua adalah utilitas yang bersifat non material, yaitu kepuasan yang tidak berbentuk material, seperti pendidikan, contoh lain orang merasa puas jika bisa melaksanakan ibadah.

Kalau utilitas material bersifat terbatas, maka utilitas non-material tidak terlalu terbatas.. Misalnya orang yang mempunyai utilitas dalam beribadah, relatif tidak memiliki persaingan dalam beribadah. Lain halnya apabila terjadi pembatasan beribadah, seperti pembatasan waktu beribadah berdasar nilai pahala, maka yang terjadi orang akan berkompetisi untuk melakukan ibadah secara lebih awal. Sementara utilitas material, kepemilikannya kadang dapat diatur, tapi kadang tidak dalam kemampuan memiliki-nya. Kenyataannya, di dunia ini ada 1% orang yang menguasai 85% kekayaan dunia.

Dalam konteks Pemilihan Umum (Pemilu) misalnya, ada saja orang yang tak puas menjabat bupati selama 2 periode, hingga ia melamar menjadi gubernur, dan di sisa hidupnya ia masih berhasrat menjadi presiden, paling tidak menjadi salah satu anggot cabinet. Tak peduli besarnya pengorbanan yang ia lakukan demi meraihnya. 

Begitulah rasa lapar seseorang akan kekuasaan. Rasa rakus akan kekuasaan tersebut, selain ingin meraih jenjang yang lebih tinggi, ada juga yang menganggap kekuasaan itu adalah kunci kebahagiaan hidupnya. Terdapat berbagai alasan mengapa orang ingin berkuasa. Alasan inilah yang selanjutnya menjadikan seseorang rela mengerahkan segenap daya dan upayanya demi meraih berkuasa, hingga menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan atau mempertahankan kekuasaan yang telah ia peluk.

Ada beberapa alasan yang terdengar patriotic:

1) untuk berbakti kepada nusa dan bangsa, atau karena merasa gelisah melihat keadaan masyarakatnya hingga hatinya tergerak untuk memperbaiki keadaan. Melalui kekuasaan, mereka berharap dapat melakukan pemerataan ekonomi, menegak-kan keadilan, serta menyejahterakan dan membahagiakan masyarakatnya. Lagi, mereka merasa bertanggung jawab untuk memper-baiki keadaan. Sayangnya, lebih banyak yang gagal ketimbang yang berhasil.

2) Ingin mewujudkan ide-ide yang lama ia pikirkan, seperti memuaskan rasa lapar akan kekuasaan dalam dirinya, sehingga ia menawarkan ide (baik dan tidak baik) bagi masyarakatnya. Inilah yang dilakuakn oleh Adolf Hitler. Ia ikut dan menang dalam pemilu Jerman, dan ia bertekad ingin mewujudkan idenya tentang ‘pemurnian’ bangsa Jerman dan ekspansi teritorial. Hasilnya, awan gelap dan kekacauan di Eropa hingga berdampak pada sejarah dunia sampai kini.

3) Ingin terbebas dari pengaruh orang lain (otonom) dalam mengambil keputusan. Bagi orang ini berkuasa berarti bebas mengikuti kehendaknya sendiri, mengabaikan orang lain, dan membuatnya bebas melakukan apapulainnya n yang ia sukai. Ia tak mau agendanya didikte. Jika keputusan sudah diambil, siapa berani mengingatkan, apa lagi menentang?

4) Merasa bangga mampu membuat keputusan yang menentukan nasib orang banyak. Ia merasa senang karena bisa mengendalikan orang lain dan membuat orang lain mengikuti keputusannya, tapi suka usil dan membuat panik orang-orang dekatnya. Ia merasa senang saat kebijakannya jadi bahan perbincangan. Kebijakannya ditunggu oleh pelaku pasar dan dianalisis oleh para ahli politik, ekonomi, militer, hingga pialang saham. Padahal, ia sendiri tidak pernah berpikir sejauh yang dipikirkan oleh para ahli itu.

5) Ingin menjadi orang yang ditakuti menjadi alasan lain, karena wewenang dan pengaruhnya merupakan kesenangan tersendiri. Ia menikmati kemampuannya untuk membuat orang lain merasa cemas, takut, hingga menyerah dan meminta ampun; cenderung senang mendominasi orang lain untuk memuaskan egonya; dan senang membayangkan betapa sibuk orang-orang mempersiapkan penyambutan untuk kunjungannya.

6) Berkuasa berarti populer, dalam arti dikenal banyak orang, walaupun belum tentu disukai. Sebagian orang menikmati popularitas, dikenal orang di mana-mana, disambut dan diberi penghormatan—walaupun belum tentu tulus. Banyak orang ingin bersalaman dan berfoto bersama untuk kemudian dipakai nebeng popularitas.Menjadi pejabat tinggi dan berkuasa: gaji besar serta fasilitas komplit, kemana-mana diantar dan dikawal, hingga tidur pun dijaga tanpa perlu khawatir bakal ada pencuri dan perampok menyatroni rumahnya. Semua orang berusaha agar ia tidak mengeluh.

7) Dengan berkuasa, seseorang berpikir akan mendapat kemudahan untuk memperoleh akses yang luas kepada sumber-sumber daya ekonomi—informasi, database, finansial, material, dan banyak lagi. Dalam konteks ekonomi, kekuasaan sangatlah berharga. Namun, alasan ini dapat menjerumuskan seseorang untuk melakukan tindakan yang menguntungkan diri sendiri maupun orang lain. Tak heran bila banyak pebisnis yang terjun ke politik dan sebaliknya.

8) Senang menjadi pusat perhatian banyak orang. Setiap hari diberitakan di media, dikutip kata-katanya, diamati gerak-geriknya, bahkan bila ia sekedar duduk-duduk di taman belakang rumahnya sembari minum kopi. Jika menghadiri acara tertentu, sambutan dan pidatonya disimak dan diberitakan. Katakanlah ini sejenis kesenangan yang narsistik.

9) Sebagian orang merasa puas karena berhasil duduk di antara orang-orang yang menganggap diri punya kelas tersendiri, karena tidak semua orang bisa jadi gubernur, menteri, presiden, raja, ataupun CEO. Ini perkara status, tentang klub para elite dengan keanggotaan yang terbatas.

10) Senang dan bangga namanya ditulis dalam buku-buku, termasuk buku sejarah dan buku pelajaran yang dihapal anak-anak sekolah menengah. Ada kebanggaan menjadi orang yang akan diingat banyak orang di masa kemudian karena pernah berkuasa, tak peduli apakah kekuasaannya menyejahterakan rakyat atau malah membuat menderita. Ada juga sebagian orang yang melihat kekuasaan dengan cara yang lebih sederhana, misalnya karena memperoleh kesempatan mengunjungi banyak negara dan keliling dunia secara gratis. 

Jika sebelumnya harus membuka dompet sendiri untuk biaya transportasi, pengina-pan, tur wisata, makan-minum, maupun oleh-oleh, dengan berkuasa semua itu bisa diperoleh secara gratis. Apalagi selalu diperlakukan secara istimewa. Impian mengunjungi kota Venesia di Italia, misalnya, akhirnya terwujud.


Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.