Cogito ergo sum (aku ada karena aku berpikir) adalah nafas pemikiran Réné Desartes. Dalam perkembangan ilmu Filsafat, semboyan di atas memang sering dipandang sebagai cara yang parsial dalam memahami eksistensi holistik manusia. Namun demikian, hampir tak dapat dipungkiri bahwa pikiran manusia lah yang mengubah jaman demi jaman, era demi era, dan hari demi hari.
Kenyataannya banyak dari kita yang setuju dengan pandangan bahwa “setiap jaman punya pemikiran sendiri”, atau “konsep pemikiran itu selalu berubah dari waktu ke waktu”. Dulu, misalnya pemberontak dan para penganut pemikiran radikal sangatlah ditentang publik dan pemerintah.
Tapi kini, pemikiran nyeleneh hingga banal malan menjamur hingga tak terkendali. Dulu DII/TI, Permesta, RMS dst, di jaman awal kemerdekaan dipandang sebagai komplotan pemberontak oleh pemerintah Indonesia. Tetapi, FPI, HTI, dan kelompok sejenis justru berkawan dengan lembaga tertentu dari pemerintah.
Begitu juga di era Soekarno hingga Orba. Saat itu menghina pancasila dan UUD 1945 sama dengan memprokla-mirkan diri sebagai pemberontak yang siap ditembak mati. Tapi kini, tak menhafal 5 Sila Pancasila hingga menghina Pancasila justru dipandang wajar. Bagaimana tidak, ada juga capres yang tidak menghafalnya.
Begitu juga di era Soekarno hingga Orba. Saat itu menghina pancasila dan UUD 1945 sama dengan memprokla-mirkan diri sebagai pemberontak yang siap ditembak mati. Tapi kini, tak menhafal 5 Sila Pancasila hingga menghina Pancasila justru dipandang wajar. Bagaimana tidak, ada juga capres yang tidak menghafalnya.
Pendeknya, di era kebebasan di era pemerintahan Jokowi, semua orang atau kelompok justru seakan boleh bertindak apa saja atas nama Tuhan-nya, termasuk menghina para pahlawan, simbol negara, bahkan mengharamkan lagu-lagu bertema nasionalisme. Aneh bukan? Apa jaman sedang terbalik? Tentu bukan.
Pola pikir manusia yang semakin aneh dan ganjil. Padahal “cogito ergo sum”-nya Descartes tak boleh dilepaskan dari kemampuan logika. Tapi anehnya, pola pikir yang radikal justru berdiri angkuh di negara ini. Padahal mereka hadir dengan logical fallacy (logika yang salah) dalam bernegara.
Pola pikir manusia yang semakin aneh dan ganjil. Padahal “cogito ergo sum”-nya Descartes tak boleh dilepaskan dari kemampuan logika. Tapi anehnya, pola pikir yang radikal justru berdiri angkuh di negara ini. Padahal mereka hadir dengan logical fallacy (logika yang salah) dalam bernegara.
Demikian logika berpikir itu sangat penting. Selain melalui proses pembelajaran di sekolah/universitas dan pergaulan ditengah masyarakat, logika juga dapat dibangun lewat kesadaran diri yang tinggi. Itu berarti hanya orang yang bisa berpikir logis dan punya kesadaran diri yang tinggilah yang mampu mengubah sejarah.


Posting Komentar