Minggu, 18 April 2010

Jenis Sastra Dalam Kitab Suci : YEREMIA

Yeremia (627-571 SM).

Kitab Yeremia mempunyai susunan tematik bukan kronologis. Bagian pertama (Yer. 1-25) berusaha mengembangkan tema keberdosaan nasional dari pernyataan tentang mandat sang nabi sampai kepada hukuman terakhir. Sebagai suatu unit bagian ini merupakan keseluruhan yang agak terputus-putus dengan bermacam-macam bentuk sastra jalin-menjalin: ucapan-ucapan ilahi tentang pengharapan dan kehancuran serta narasi autobiografis, biografis, dan bersifat percakapan (dialog). Ini sebanding dengan gaya sastra yang terdapat di Quran misalnya. Dalam kitab itu pun materinya tidak dikembangkan secara logis, melainkan diulang dan terus-menerus jalin-menjalin mengenai pokok dan bentuk.

Demikianlah Yeremia menjalin dan mengulang tema keberdosaan nasional dan hukuman yang akan datang; sering kali ia mengulang lagi materi yang sudah disajikan. Efeknya sensasional dan mengharukan (bdg. Yer. 5:17). Gaya mazmur Yeremia terutama nyata dalam mazmur ratapannya yang kedua (Yer. 4:19-31).

Pada umumnya, bagian tengah (Yer. 26-45) disusun secara kronologis walaupun tidak tetap. Di bagian ini narasi prosa menonjol, namun bagian-bagian puisi juga ada. Bagian ketiga (Yer. 46-51) terutama terdiri atas puisi nubuat. Pandangan kenabian bergerak dari Mesir ke Elam-Babilonia serta menggambarkan dalam perumpamaan-perumpamaan yang indah hukuman atas semua musuh Israel.

Gaya Yeremia menggunakan terlalu banyak kata, tidak seperti gaya sederhana Yesaya dan Hosea. Sering kali Yeremia mengacu kepada nabi-nabi yang lain, tetapi materinya diketengahkan dalam bentuk yang lebih lembut. Ia juga mengacu kepada kitab-kitab Pentateukh, terutama kitab Ulangan (bdg. Yer. 3:1 dan Ul. 24:4; Yer. 3:13 dan Ul. 30:1; Yer. 4:4 dan Ul. 10:16). la pun mengacu kepada dirinya sendiri (bdg. Yer. 44:28 dan 51:50). Wacana-wacananya adalah bagaikan gambar-gambar dalam gambar hidup: tiap gambar memperlihatkan tokoh-tokoh yang sama tetapi dengan posisi yang agak berbeda. Sungguh, gambar-gambar itu mungkin sedikit kacau. Jadi, gerak maju dalam kitab ini tidak terus terang dan lancar. Peralihan di antara gambar-gambar itu mendadak dan sering terjadi pengulangan. Kadang-kadang ia dituduh kurang mempunyai pikiran yang orisinal, tetapi ini merupakan penilaian yang dangkal. Daya imajinasinya memberikan kedalaman dan ketajaman baru kepada tradisi yang menjadi latar belakangnya. Kecakapannya yang besar dalam berpuisi terutama terlihat dalam penggambarannya yang hidup dari kesepian dan penderitaan manusia. Puisi Yeremia mencapai kedalaman emosi murni yang menjangkau setiap pembaca.



Lusius Sinurat
[ www.5iu5.blogspot.com ]
Tanggapan

0 Komentar:

Poskan Komentar

luciusinurat@gmail.com





Feed

Mother Theresa of Calcuta

"Love begins at home, and it is not how much we do... but how much love we put in that action."


- Mother Theresa of Calcuta