Selasa, 16 Maret 2010

Patung = Berhala?

Ibadat dan liturgi dalam Gereja Katolik biasa menggunakan lambang dan simbol dalam upacaranya. Salah satu bentuk lambang dan simbol tersebut adalah patung-patung, baik yang menggambarkan Yesus, Bunda Maria, ataupun para santo-santa. Bagi kebanyakan orang Katolik, lambang-Iambang dan patung-patung itu tidak menimbulkan masalah yang berarti. Hanya saja, ketika mereka mendapatkan pertanyaan mengenai hal tersebut, terutama dari mereka yang mempunyai keyakinan lain, orang Katolik sendiri tidak bisa menjelaskan makna dan artinya. Terlebih ketika dikatakan bahwa pemakaian patung khususnya, bertentangan dengan Kitab Suci. Sepertinya Kitab Suci sendiri melarang pemakaian patung-patung dalam kehidupan orang beriman. Benarkah demikian?
Dalam Kitab Keluaran, yang mengisahkan perjalanan Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir melewati padang gurun, diungkapkan pertemuan Musa dengan Yahwe di Gunung Sinai. Yahwe menampakkan diri kepada Musa dalam wujud guruh dan kilat, badai, gempa bumi, dan awan padat, dan berbagai bentuk lain (Kel 19:1-25). Yahwe kemudian memberikan 10 perintah kepada Musa untuk disampaikan kepada bangsa Israel.

Perintah kedua mengatakan: “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” (Kel 20:4-5).

APA YANG SEBENARNYA DIKATAKAN?
Kitab Suci sepertinya memang melarang bangsa Israel untuk membuat gambaran dan bentuk yang dapat disembah selain Yahwe sendiri. Imamat 26:1 seakan mempertegas hukum itu, “Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah Tuhan, Allahmu.”

Di bagian lain bahkan dikatakan secara detail: “…supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apapun; yang berbentuk laki-Iaki atau perempuan; yang berbentuk binatang yang di bumi, atau yang berbentuk burung bersayap yang terbang di udara, atau yang berbentuk binatang yang merayap di muka bumi, atau yang berbentuk ikan yang ada di dalam air di bawah bumi, ...” (Ul 4:16-18). Hukum ini begitu keras sehingga diikuti kutukan bagi yang melanggarnya, “Terkutuklah orang yang membuat patung pahatan atau patung tuangan, suatu kekejian bagi Tuhan, buatan tangan seorang tukang, dan yang mendirikannya dengan tersembunyi” (Ul 27:15).

Sangat jelaslah bahwa memang Hukum Tuhan melarang pemakaian gambaran tanaman, binatang, dan manusia untuk penyembahan. Dalam konteks inilah banyak orang Kristen kemudian membuang segala macam bentuk patung dalam ibadat mereka dan memberikan kritikan keras kepada mereka yang masih memakai patung dalam ibadat.

BAGAIMANA KEHIDUPAN WAKTU ITU?
Bangsa Yahudi tidak dapat melepaskan diri sama sekali dari penggunaan patung dan gambaran Illahi, meskipun hidup dalam konteks Kitab Suci. Dalam banyak teks Kitab Suci, terutama Perjanjian Lama, ditemukan bentuk-bentuk toleransi dan bahkan penerimaan terhadap penggunaan patung atau gambaran Illahi. Dalam beberapa peristiwa Tuhan sendiri yang memerintahkan pembuatan patung dan gambaran Illahi.

Dalam perjalanan melintasi padang gurun misalnya, Yahwe memerintahkan untuk membuat Tabut Perjanjian, untuk menempatkan kedua loh batu yang berisi sepuluh perintah. Yahwe memerintahkan untuk membuat dua kerub dari emas, perwujudan dari setengah binatang dan setengah manusia, yang ditempatkan pada tutup Tabut Perjanjian (Kel 25:18). Juga ditambahkan semacam lampu pada Tabut Perjanjian itu (Kel 15:33). Pekerjaan ini bukan inisiatif manusia. Menurut Kitab Suci, Yahwe sendiri memenuhi `seniman' Bezaleel dengan Roh-Nya, memberinya pengetahuan dan keahlian untuk membuat patung dan gambar Illahi.

Dalam bagian lain sejarah Israel, beberapa tokoh suci memakai patung dan gambaran Illahi untuk ibadat tanpa merasa takut. Gideon, salah satu Hakim penting, membuat gambaran Yahwe dari anting-anting emas dan barang berharga lainnya (Hak 8:24-28). Mikha, seorang yang sangat beriman kepada Yahwe, membuat efod dan terafim dari perak dan mendirikan kuil untuk menyembah Yahwe (Hak 18:1-31). Bahkan Daud, yang dipilih dan diurapi Yahwe sendiri, mempunyai gambaran Illahi dalam rumahnya tanpa merasa takut (1 Sam 19:11-13).

DALAM BAIT ALLAH SENDIRI

Ada juga Bait Allah yang agung di Yerusalem yang dibangun oleh Raja Salomo. Menurut gambaran yang diberikan Kitab Suci, Bait Allah dipenuhi dengan lambang dan patung Illahi, dimulai dari bagian yang paling dikuduskan, ditempatkan dua kerub dari kayu minyak, bersama-sama dengan Tabut Peranjian (1 Raj 6:23). Bagian dalam kemudian dipenuhi juga dengan gambaran kerubim, pohon korma, dan bunga-bunga (1 Raj 6:23). Dan untuk mendukung gambaran air yang menyucikan yang ditempatkan di pintu masuk Bait Allah, dibuatlah 10 kereta penopang dari tembaga (1 Raj 7:27). Singkatnya, gambaran Illahi dan berbagai macam bentuk, mirip patung, yang ada dalam Bait Allah dibuat dengan persetujuan dari Yahwe sendiri (bdk. 1 Raj 5-8).

Ada yang lebih dari itu! Seekor ular yang sangat besar, terbuat dari tembaga yang dibuat Musa di padang gurun atas perintah dari Yahwe sendiri untuk menyembuhkan mereka yang digigit ular, juga dipakai dalam konteks penyembahan. Ular tembaga itu masih tetap disembah sampai kurang lebih 200 tahun sesudahnya, ditempatkan dalam Bait Allah sampai dihancurkan oleh raja Hizkia (bdk. 2 Raj 18:4). Dan ketika Bait Allah sudah dihancurkan, Nabi Yehezkiel mendapat penglihatan tentang Bait Allah yang baru, yang juga dipenuhi dengan gambaran dan patung Illahi (bdk. Yeh 40:1-41:26). Jumlah gambaran Illahi, lukisan, patung dan hiasan, sesuatu yang dilarang, dalam Bait Allah Yerusalem sangat banyak!

BUKAN SATU-SATUNYA PENOLAKAN
Dalam konteks perintah kedua, tidak ada nabi yang menolak gambaran Illahi atau patung. Para nabi, yang adalah utusan Yahwe, yang menyuarakan penolakan terhadap segala dosa, yang tidak mengijinkan penyimpangan sedikit pun, tidak menyuarakan keberatan terhadap pemakaian gambaran Illahi dan patung.

Elia dan Elisa, nabi yang hebat, tidak memberikan hukuman terhadap penyimpangan perintah kedua. Amos, yang memiliki panggilan yang unik, diperintahkan untuk menyampaikan sabda Tuhan dalam kuil di Betel yang mempunyai patung lembu dan menghiasi altar Yahwe, tidak menentang pemakaian patung tersebut. Amos hanya menyuarakan penentangannya terhadap kemewahan, keserakahan, dan kekejaman orang-orang, tanpa sedikit pun menyinggung patung lembu di Bait Allah.

Apa yang terjadi dengan perintah kedua itu? Sepertinya tidak mempunyai pengaruh atau hanya sekadar bahwa perintah itu tidak begitu wajib dijalankan? Apa yang menjadi dasar untuk melihat gambaran Illahi atau patung tersebut? Kitab Suci tidak memberikan penjelasan dan orang-orang Israel tidak pernah menegaskan dasar tersebut. Dalam Kitab Ulangan memang ditemukan teks yang mengacu pada dasar tersebut, “Hati- hatilah, sekali-sebab kamu tidak melihat sesuatu rupa pada hari Tuhan berfirman kepadamu di Horeb dari tengah-tengah api - supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apa pun...” (Ul 4:15-16). Artinya, ketika Yahwe bersabda kepada mereka, orang Israel hanya mendengar suara tanpa melihat apa pun sebagai gambaran Illahi.

KEMUNGKINAN ALASAN
Walaupun Kitab Suci tidak mengatakan langsung, kita dapat memahami dasar dari larangan pemakaian gambaran Illlahi dan patung. Dalam masa itu, juga bagi semua bangsa yang ada dalam kontak dengan bangsa Israel, punya keyakinan bahwa simbol-simbol Illahi tidak hanya mengungkapkan lambang, tetapi ada keyakinan bahwa Yang Illahi sendiri ada dalam simbol tersebut. Simbol itu adalah Yang IIlahi sendiri.

Menurut mentalitas primitif, pribadi Illahi tinggal dalam gambaran atau simbol yang dipakai untuk mengungkapkan Yang IIlahi. Ketika seseorang membuat sebuah simbol, Tuhan sendiri datang dan tinggal dalam simbol itu. Simbol menjadi seperti ungkapan untuk mengundang Tuhan untuk datang dan tinggal di dalamnya. Kitab Suci juga menceritakan ketika Rachel, istri Yakub, mencuri terafim Laban, ayahnya, ungkapan Laban seolah-olah Rachel telah mencuri dewanya (Kej 30:31). Mikha juga merasakan hal yang sama ketika patungnya dicuri (Hak 18:24).

Kemungkinan jatuh dalam konsep magis dari simbol Illahi memang sangat mudah. Memiliki simbol Illahi berarti mempunyai kekuatan Illahi, inilah salah satu bentuk penguasaan terhadap yang Illahi. Inilah yang menempatkan identitas Yahwe dalam bahaya. Yahwe mewahyukan diri secara bebas ketika Dia mau, kepada ciptaan-Nya menurut kehendak-Nya sendiri.

Ketika pemahaman semacam itu belum menjadi ancaman, tidak ada kesulitan untuk menerima gambaran Illahi atau patung. Tetapi ketika Israel jatuh dalam pemujaan terhadap berhala, para nabi muncul dan mengingatkan Israel. Hosea menjadi yang pertama yang mengingatkan Israel bahwa bukan jenis dan banyaknya persembahan yang menjadi ukuran bagi mereka untuk mendapatkan berkat Yahwe. Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel juga melakukan hal yang sama. Pada waktu itu belum disadari bahwa manusia dapat menyembah Tuhan dalam bentuk manusiawi.

KETlKA TUHAN SENDIRI YANG MEMBUAT
Sejarah berlalu, muncul perkembangan rasional dan filsafat Yunani. Inilah yang kemudian membantu dalam mengurangi ide pemujaan terhadap gambaran Illahi dan patung. Di samping itu, Israel juga percaya bahwa Yahwe adalah Tuhan semua orang, tidak hanya bagi Israel. Karena itu semua gambaran Illahi, altar, doa-doa, ritual dan penyembahan yang dirayakan di semua tempat dan bahaya ditujukan kepada Yahwe.

Tuhan sendiri, yang seperti menyembunyikan diri, mewahyukan diri dalam periode manusiawi yang lebih dewasa, yang dapat diterima oleh semua orang. Dalam Perjanjian Lama Tuhan mewahyukan diri tanpa perantara. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan membuat diri-Nya dapat dilihat. Pada malam Natal, para malaikat mengabarkan pewahyuan baru,“Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan kain lampin dan terbaring dalam palungan” (Luk 2:12).

Tuhan sendiri, ketika tidak ada bahaya lagi penyimpangan pemahaman, bersedia untuk mendekati manusia, dengan perantaraan Kristus, supaya manusia dapat melihat, mendengar, menyentuh, dan merasakan kehadiran-Nya.

TIDAK ADA LARANGAN!
Santo Paulus, yang hidup dalam konteks Perjanjian Lama, memahami dengan baik tentang “Kristus, gambaran Allah” (2 Kor 4:4). Dengan madah yang indah, ia mengatakan bahwa Kristus “adalah gambar Allah yang tidak kelihatan” (Kol 1:15). Yesus sendiri mengatakan kepada Filipus, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9).

Karena itu, jika Tuhan sendiri bersedia meninggalkan `tempat persembunyian-Nya' dan kemudian membuat diri-Nya sendiri nampak dengan perantaraan manusiawi, siapakah kita yang berani melarang gambaran diri-Nya?

Larangan dalam Perjanjian Lama mempunyai tujuan pendidikan, karena itu hanya bersifat sementara. Dengan berjalannya waktu, kedewasaan berpikir semakin matang. Inilah cara bagaimana orang-orang Kristen seharusnya memahaminya. Mereka mulai dengan gambaran Kristus dan melukiskan bagian-bagian hidup-Nya untuk membantu orang semakin dekat dengan Tuhan. Gereja-gereja, kapel, bahkan makam-makam dibuat dengan pemahaman yang sama.

Gereja Reformasi (Protestan), ketika memisahkan diri dari Gereja Katolik, melawan pemakaian gambaran Kristus dalam bentuk apapun. Mereka menghancurkan gereja dan patung-patung. Tetapi Luther, pelopor Gereja Protestan, menyadari pentingnya gambaran tersebut. Dalam salah satu suratnya Luther menulis, “Simbol, gambaran, perantaraan dan ritual liturgis dan hal-hal semacam itu seharusnya dibiarkan sebagai suatu pilihan bebas. Mereka yang tidak menyukainya dapat menyingkirkannya. Semua itu mendapatkan inspirasi dari Kitab Suci atau dari Tradisi, dan sepertinya sangat berguna bagiku.” Dalam bagian lain, Luther juga mengakui bahwa segala macam perantaraan itu adalah “Injil bagi orang-orang miskin.”

Luther mengerti bahwa banyak pengikutnya menolak untuk memahami bahwa memakai perantaraan bukan sebuah pemujaan terhadap gambaran itu sendiri, tetapi kepada Tuhan, dengan memakai perantaraan. Inilah sebenarnya yang harus direfleksikan terus-menerus bagi semua orang, apakah masih tetap mempunyai mentalitas pemujaan kepada patung atau gambaran lain atau tidak. Secara mudah dapat dilihat, apakah mereka merasa sangat kehilangan sehingga tidak bisa berdoa lagi jika `perantaraan' itu rusak atau hilang. Mentalitas inilah yang sebenarnya ada dalam Perjanjian Lama. Jika memang kita mau menerapkan perintah kedua itu secara tegas, kita bahkan tidak akan boleh menonton TV, karena bukankah itu juga menciptakan `perantaraan' bagi kebutuhan kita?


PENGANTARA
Ketika Yesus, Putra Allah, menjadi manusia, mengambil karakter yang bersifat sementara, bentuk yang sangat membantu dalam pewartaan-Nya. Sifat sementara itu tampak jelas dalam ungkapan, “Kami telah mendengar Dia, kami telah melihat Dia, kami telah menyaksikan Dia” (1 Yoh 1:1). Jadi, ada kebutuhan untuk mencoba meluruskan kesalah-pahaman tentang pemakaian `perantaraan'. Meskipun kita harus menghindari konsep magis (takhyul) dan kesalahan dalam pemakaian `perantaraan' Kitab Suci tidak pernah bisa dipakai sebagai dasar langsung dari larangan penggunaan `perantaraan' seperti yang dilakukan oleh beberapa gereja dan aliran.

Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menggambarkan Kristus yang ada dalam diri kita masing-masing. St. Paulus menegaskan “Sebab semua orang yang telah dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukannya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya...” (Rm 8:29). Tidak melakukannya hal ini berarti mengingkari asal dan tujuan hidup kita.

Setiap perbuatan, setiap karya, setiap peran kita dalam dunia ini, akan menciptakan gambaran dan pengaruh terhadap gambaran Yesus dalam hidup kita. Semua itu mengarahkan kita pada akhir hidup, yang seharusnya menjadi semakin sempurna. Yesus sendiri mengajak kita, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat 5:48).


Sumber : 
JUBILEUM Edisi 55, Tahun V, Oktober 2004
Tanggapan

0 Komentar:

Poskan Komentar

luciusinurat@gmail.com





Feed

Mother Theresa of Calcuta

"Love begins at home, and it is not how much we do... but how much love we put in that action."


- Mother Theresa of Calcuta